PROBOLINGGO — Institut Ahmad Dahlan (IAD) Probolinggo menggelar Kuliah Umum dan Penguatan Kelembagaan pada Sabtu, 29 Agustus 2026, di Aula Institut Ahmad Dahlan Probolinggo. Kegiatan yang mengangkat tema “Transformasi Kelembagaan dan Penguatan Akademik Menuju Perguruan Tinggi Islam yang Unggul dan Berkemajuan” tersebut menghadirkan Prof. Dr. M. Arskal Salim, GP., M.Ag., Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, sebagai pemateri.
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. M. Arskal Salim menekankan bahwa transformasi pendidikan Islam harus tetap berpijak pada tauhid sebagai fondasi utama. Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak boleh hanya mengejar kemajuan teknis, tetapi harus diarahkan untuk membangun manusia yang memiliki karakter, integritas, dan orientasi kemaslahatan.
“Pengembangan pendidikan Islam harus tetap menjadikan tauhid sebagai fondasi. Teknologi dan perkembangan digital harus menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan memberikan kemanfaatan bagi umat.”
Beliau juga menekankan pentingnya reformasi kurikulum yang didukung literasi digital. Perguruan tinggi Islam perlu menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan zaman agar mahasiswa memiliki kompetensi akademik sekaligus kemampuan memanfaatkan teknologi secara kritis, kreatif, dan bertanggung jawab.
Lebih lanjut, pengembangan pendidikan Islam perlu diarahkan pada pembangunan ekosistem digital Islam. Teknologi tidak sekadar digunakan sebagai perangkat pembelajaran, tetapi perlu menjadi bagian dari ekosistem yang mendukung pendidikan, penelitian, dakwah, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, transformasi digital tetap memiliki landasan nilai dan tidak kehilangan orientasi keislamannya.
Penguatan tersebut, menurutnya, harus diikuti dengan peningkatan kompetensi dosen sebagai aktor utama dalam proses pendidikan. Dosen perlu terus mengembangkan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi serta menyesuaikan metode pembelajaran dengan perubahan karakteristik generasi dan perkembangan lingkungan akademik.
Selain aspek akademik, penguatan kelembagaan menjadi perhatian penting dalam agenda tersebut. KMA (Keputusan Menteri Agama) menjadi salah satu momentum awal pengembangan institusi yang perlu ditindaklanjuti melalui strategi penguatan tata kelola, akademik, dan sumber daya manusia. Salah satu strategi yang didorong adalah peningkatan kualifikasi akademik dosen dengan target 50 persen dari total dosen di institusi melanjutkan studi pada jenjang doktoral (S3).
“Penguatan institusi harus dimulai dari penguatan sumber daya manusianya. Karena itu, peningkatan kualifikasi dosen melalui studi doktoral menjadi bagian penting dalam membangun perguruan tinggi yang unggul dan berkemajuan.”
Pengembangan sumber daya manusia tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas institusi dalam bidang pendidikan, penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam konteks yang lebih luas, perguruan tinggi Muhammadiyah juga diharapkan mampu menjadi penggerak pengembangan kompetensi umat, bukan hanya melalui proses pendidikan formal, tetapi juga melalui kontribusi nyata terhadap masyarakat.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi momentum bagi IAD Probolinggo untuk memperkuat arah pengembangan institusi di tengah perubahan pendidikan tinggi yang semakin dinamis. Melalui integrasi nilai tauhid, reformasi kurikulum, literasi digital, ekosistem digital Islam, peningkatan kompetensi dosen, dan pengembangan SDM, IAD Probolinggo meneguhkan komitmennya untuk terus tumbuh sebagai perguruan tinggi Islam yang unggul, adaptif, dan berkemajuan.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar IAD Probolinggo untuk memperkuat peran perguruan tinggi Muhammadiyah sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan penggerak peningkatan kompetensi serta kemajuan umat.